Micro & Macro Influencer, Mana Yang Kamu Pilih?

Influencer Marketing adalah fenomena pemasaran yang kian disorot oleh para brand. Di antara dua pilihan Micro dan Macro, kira-kira mana yang paling pas untuk menunjang brand-mu?


Influencer merupakan salah satu keyword yang lumayan banyak digunakan di Instagram beberapa tahun ke belakang. Namun, tahukah kamu apa makna dari Influencer itu sendiri? Influencer sebenarnya merupakan pengguna media sosial yang telah mempunyai kredibilitas dan memiliki audiens yang besar. Ada banyak sebutan yang disematkan pada kata Influencer. Beberapa di antaranya menyebutnya sebagai KOL atau Key Opinion Leader, Selebgram, Content Creator, Blogger, Kreator Digital, dan masih banyak lagi sebutan lainnya.


Influencer ini pada dasarnya merupakan content creator yang memproduksi kontennya sendiri, sehingga dapat dinikmati oleh khalayak luas. Para content creator ini juga dapat dikategorikan sesuai platform media sosial yang ia gunakan, seperti creator YouTube, creator Instagram, creator Facebook, dan bahkan creator TikTok.


Di tengah-tengah harga jasa macro influencer (influencer dengan basis followers yang besar) yang kian melonjak, kehadiran micro influencer (influencer dengan basis followers yang belum terlalu banyak) seakan menjadi angin penyejuk. Namun, sebelum kita membahas micro dan nano influencer lebih jauh, kita kenalan dulu yuk sama kedua istilah ini. Sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai jumlah nano, micro dan macro influencer. Hal ini dilihat dari demografi setiap negara. Misalnya, patokan jumlah nano, micro dan macro di Amerika berbeda dengan di Indonesia.


Menurut Chief Operations Officer Gushcloud Marketing Group, Oddie Randa, dalam sesi wawancaranya bersama Wolipop mengatakan bahwa Nano Influencer adalah mereka yang memiliki followers di bawah angka 20 ribu, sementara Micro Influencer memiliki jumlah followers di angka 20 sampai dengan 100 ribu, dan Macro Influencer yang jumlah followers-nya berada di atas 100 ribu.

Influencer atau sering kita sebut dengan KOL (re: Key Opinion Leader) merupakan bentuk content marketing online dengan teknik ‘word of mouth’ (pemasaran dari mulut ke mulut). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Nielsen, word of mouth masih menjadi salah satu strategi marketing yang paling efektif.


Hal inilah yang kemudian menjadi daya tarik. Brand owner melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang menguntungkan.


Alih-alih menggunakan iklan di media, menggunakan jasa Influencer dianggap lebih murah dan mendatangkan audience bahkan follower baru di media sosial.

Namun, sebenarnya apa saja yang harus kamu perhatikan dalam memilih Influencer? Baik itu Micro Influencer atau Macro Influencer, setidaknya ada beberapa hal yang mesti kamu ingat. Mari simak poin-poin berikut:

  • Perhatikan persona yang dimiliki sang Influencer, seberapa jauh mereka dekat dengan audience dan seberapa berpengaruhnya ia bagi para follower-nya;

  • Cari Influencer yang selektif dan tidak asal endorse. Poin yang satunya ini memang sulit. Tetapi Influencer yang membatasi dirinya untuk me-review lebih sedikit produk, biasanya punya value yang lebih tinggi. Ia hanya menggunakan dan berani memasarkan produk yang dinilainya memang bagus dan layak untuk diketahui khalayak banyak;

  • Berikan brief yang jelas. Kriteria brief yang jelas adalah brief yang memuat tentang ide kreatif dari campaign yang dijalankan, dan rincian apa saja yang harus termuat dalam konten yang dihasilkan si Influencer;

  • Tentukan objektif pemasaran, apakah kamu ingin meng-hire Influencer sebagai brand ambassador atau sekadar membantu meningkatkan awareness. Karena jika ingin menjadikannya sebagai brand ambassador, maka kamu harus pastikan bahwa Influencer tersebut tidak sedang menjalin kerjasama dengan brand sejenis;

  • Selalu ingat bahwa menggunakan jasa influencer hanyalah merupakan salah satu cara agar produk brand-mu dikenal secara luas. Jadi, jangan langsung berekspektasi bahwa jumlah sales akan meningkat pesat yah. Hal ini didasari dengan adanya riset yang dilakukan oleh SociaBuzz. Menurut hasil survei yang dikeluarkan SociaBuzz soal penggunaan influencer untuk kegiatan pemasaran, sebanyak 98,8% digunakan untuk meningkatkan awareness, sebanyak 62,7% untuk mengedukasi target konsumen, 50,6% untuk penjualan, dan sisanya sebesar 39,8% untuk meningkatkan jumlah follower. Dalam survei itu pula, SociaBuzz menuturkan bahwa pemanfaatan influencer yang sifatnya cenderung viral dianggap mampu mengubah cara pandang konsumen saat melihat tampilan produk.

21 views0 comments